![]() |
| Idham Arsyad, Ketua DPN Gerbang Tani |
Hal inilah yang diyakini Idham Arsyad, aktivis yang giat memperjuangkan keadilan agraria selama belasan tahun. “Kebijakan pembangunan yang menyingkirkan kaum tani menunjukkan bahwa identitas politik kaum tani sangat lemah di negeri ini. Makanya momentum 2014 (Pemilu-red) harus menjadi kekuatan politik gerakan tani, baik di legislatif dan terutama untuk Presiden terpilih nanti,” ujarnya baru-baru ini (1/11).
Lanjutnya, adalah suatu kewajiban bagi negara, lewat kebijakan-kebijakannya, melindungi kaum petani, juga masyarakat di pedesaan dengan total , “habis-habisan”. Mengapa?
Jangan Pernah Dilupakan “Desa & Petani adalah Kekuatan Ekonomi Bangsa”
Pertama, karena memang sudah menjadi amanat konstitusi, UUD 1945, dimana negara wajib memakmurkan rakyatnya sendiri, bukan “rakyat bangsa lain”. Kedua, kemiskinan hebat justru ada di pedesaan dan mendera masyarakat kita yang berprofesi sebagai petani. Ketiga, ini yang seolah terlupakan, desa sesungguhnya adalah sumber kekuatan ekonomi bangsa ini. Camkan itu!
“Negara harus melindungi petani. Memberikan Jaminan hak atas tanah, pendidikan dan kesehatan serta jaminan sosial lainnya adalah kewajiban negara terhadap petani dan masyarakat di pedesaan. Negara juga harus memajukan pembangunan pedesaan. Karena desa adalah sumber kekuatan ekonomi bangsa, karena desa adalah sumber makanan bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegas Idham.
Menurutnya, seluruh sumber daya dan kekayaan alam justru berada di desa. Sayangnya selama ini masyarakat pedesaan malah tidak mendapatkan manfaat dari sumber daya dan kekayaan alam tersebut. Hal ini karena para pembuat kebijakan tidak punya kepedulian sungguh pada kaum tani dan masyarakat di pedesaan “Saatnya desa harus bangkit dan berdaulat,” serunya.
“Jujur saja, keputusan untuk maju sebagai Caleg DPR-RI dalam Pemilu 2014 bukanlah ambisi pribadi saya, melainkan mandat dari organisasi. Saat ini, saya diamanatkan kawan-kawan di Konsorsium Pembaruan Agraria dan organisasi masyarakat sipil lainnya untuk memperjuangkan agenda pembaruan agraria melalui perjuangan politik. Saya pribadi sepakat, karena strategi ini merupakan bagian dari perjuangan politik agraria yang selama ini kami perjuangkan bersama-sama. Bagi saya perjuangan mewujudkan keadilaan agraria sudah menjadi keyakinan, sehingga dimana pun tetap saya memegang keyakinan ini,” paparnya.
Ya, pria yang akrab dipanggil “Bhotghel” ini memang mencalonkan diri sebagai Calon Anggota Legislatif dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan No.Urut 4 Daerah Pemilihan Jawa Barat V (Kab.Bogor). KPA yang membesarkannya selama ini dan tempat ia berjuang sebagai aktivis agraria memang memandatkannya untuk menjadi Caleg dalam Munas organisasi itu yang ke-VI, Februari 2013.
Dalam Munas itu, KPA mendorong orang-orang yang terbukti punya kepedulian pada petani dan desa untuk menjadi Wakil petani di DPR RI. Idham merupakan salah satu yang ditunjuk.
“KPA merupakan organisasi yang didirikan untuk memperjuangkan pelaksanaan progam pembaruan agraria, sebuah program yang terdiri dari tanah untuk rakyat dan petani, jaminan pasar, pupuk, bibit, kredit dan pendidikan bagi petani, serta perbaikan sarana produksi bagi produk-produk pertanian,” terang pria yang sedang mendalami Sosiologi Pedesaan Program Magister Fakultas Ekologi Manusia, IPB ini.
Si Anak Pesantren Yang Jadi Aktivis Agraria
Idham Arsyad tumbuh sebagai muslim yang taat pada dalam ajaran Islam. Selama bertahun-tahun ia dididik dalam dunia pesantren di Makassar, Sulawesi Selatan. Dari situlah pemahaman soal keharusan membantu orang kecil dan tertindas mulai terbangun. Filosofi “Abdikan Keringat dan Pikiran Untuk Orang Kecil” yang diyakininya sebagai ajaran Islam yang utama terus dipegangnya teguh hingga kini.
“Islam adalah agama pembebasan bagi orang-orang tertindas (musthadaafin). Rasulullah sepanjang hidupnya terus membela orang-orang kecil nan tertindas,” terangnya.
Selesai tamat dari Madrasah Aliyah, ia pun melanjutkan kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Makassar, tak jauh-jauh juga dari dunia pendidikan Islam. Di kampus inilah Idham mulai mengaktualisasikan filosofinya tadi lewat kegiatan-kegiatan mahasiswa, khususnya yang berkenaan dengan pembelaan hak-hak orang kecil dan tertindas.
Selepas kuliah, Idham kemudian memantapkan diri untuk terjun menjadi aktifis. Memperjuangkan keadilan agraria menjadi pilihan utamanya. Ia menganggap petani dan masyarakat pedesaan adalah elemen bangsa yang terpinggirkan, sekadar objek eksploitasi, bahkan paling sering ditindas penguasa.
Padahal petani dan masyarakat pedesaan adalah pemberi makanan bagi bangsa ini. Suatu ironi yang patut diluruskan. Walhasil selama 15 tahun Ia pun terlibat dalam pengorganisasian petani, melakukan pembelaan terhadap kasus-kasus penggusuran tanah, juga aktif bersama KPA mengkampanyekan dan memperjuangkan kebijakan yang memberi keadilan bagi petani di pedesaan.
KPA pulalah yang kemudian menghantarkan dirinya terlibat langsung dalam perjuangan-perjuangan pembelaan kasus petani dan konflik agraria, khususnya di Jawa Barat sejak 2005 silam. Beberapa penelitian ilmiah terkait pertanahan juga sering Ia lakukan di Jawa Barat. Makanya ia paham betul soal permasalahan agraria, petani dan pedesaan di sana.
“Saya bergaul dengan petani dan merasakan kekuatan mereka. Saya sangat yakin bahwa kekuatan organisasi tani akan bisa menyelesaikan sebagian persoalan bangsa ini. Gerakan kaum tani sangat mampu menjadi kekuatan utama perekonomian bangsa,” ujarnya.
Sumber: kontaknews.com
Foto: suaraagaria.com

Jayalah indonesia bila petani berjaya
BalasHapus